Kumparan Masjid di Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat

Kumparan Masjid di Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat

Kumparan Masjid di Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat

Doni Siregar masih duduk di kelas 2 SMA di salah satu sekolah di Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat, tapi kiprahnya jangan ditanyakan lagi dia adalah pemain kuda lumping terkenal di daerahnya, di sekolah dia menjadi mega bintang bagi sekolah yang sangat mencintai budaya bangsa Indonesia. Makanya dia sudah sering malang melintang dari satu kota ke kota lainnya. Rumahnya juga sudah sangat dekat dengan Masjid padahal kegiatan setiap harinya tidak pernah lepas dari belajar kuda lumping. Goyangan kuda lumping masih ada saja di sejumlah pelosok yang khas membuat dia sering kali tampil di pertunjukan pertunjukan nasional atau untuk menyambut kedatangan tamu dari daerah lainnya atau presiden makanya dia tidak pernah kehabisan stok panggilan untuk manggung tapi tidak pernah lupa untuk ke Masjid.

Dari kecil Doni sangat senang mendengarkan lagu lagu jaranan dari vcd yang diberikan ayahnya. Ayahnya juga mendukung pada saat itu untuk tidak lagi mencari kebutuhan lainnya, karena kondisinya yang berkecukupan karena ayah Doni adalah seorang PNS di Pemerintahan setempat lagi lagi tidak akan mungkin bisa diraih oleh siapapun karena kita hanya bisa melihat dari kekayaan yang dimilikinya. Meski demikian, DOni mendapat hadiah kuda lumping saat di hari ulang tahun yang ke 4 tahunnya berada di Masjid melihat anaknya yang sangat menyukai seni tari jaranan itu makanya ayahnya ingin memberikan support yang terbaik kepada anaknya. Apa lagi setiap kalinya ayahnya tidak pernah berhenti memerhatikan anak satu satunya ini dengan memberikan yang terbaik, apa yang doni sukai pasti akan diberikan oleh ayahnya yang memang sosok penyayang ini, demi apa jika tidak memberikan segalanya kepada sang anak tercinta.

Dunia nya seakan menjadi miliknya sendiri, dengan makanan kesukaaanya adalah bakso urat yang setiap kali berpergian dia selalu membelinya. Pernah suatu ketika Doni sedang pergi ke luar kota dia seperti sangat ingin untuk makan dan akhirnya dia sendiri yang memilih untuk membeli jajanan bakso untuk mengganjal perutnya. Pedagang bakso yang bersih itu ternyata adalah seorang penunggu Masjid dulunya makanya dia sangat ramah sekali, tidak pernah berhenti memberikan senyum kepada para pembelinya dan memberikan ucapan yang sederhana tapi sangat menyentuh hati yakni kata terimakasih. Inilah yang setidaknya tidak semua pedagang dimiliki, sehingga tidak pernah membuat pelanggan merasa puas dengan pelayanan,. Makanya bakso di Masjid itu sangat ramai sekali setiap waktu tidak pernah berhenti pembeli datang,. Tidak juga ramai, tapi tidak pernah berhenti pembeli yang datang. Setiap satu datang satu keluar satunya lagi keluar satunya lagi datang, jadi selalu laris bakul bakso ini.