Rupanya Stres Berat Bisa Membikin Gigi Copot

Data Dokter – Segala hal yang terjadi dalam hidup dapat membikin kita stres. Entah itu krisis keuangan di akhir bulan, proyek kantor, menunggu jadwal sidang skripsi, sampai permasalahan romansa dan rumah tangga. Melainkan terbukti kecuali bikin sakit kepala dan tensi darah naik, stres berat lama kelamaan dapat bikin gigi copot alias ompong! Lho, kok dapat?

Bagaimana stress dapat buat gigi copot?
menurut info kesehatan, Kebanyakan orang tanpa sadar mengepalkan rahang kuat-kuat gara-gara hati kesal dilanda stres yang berkepanjangan. Sebagian orang lainnya mungkin juga sekalian menggemeretakkan gigi secara berbarengan. Tradisi ini disebut dengan bruxism. Kalau dijalankan terus-terusan, menggemeretakkan gigi kuat-kuat akan menyebabkan gigi geraham aus sehingga melonggarkan gigi dari kantung gusinya dan tulang pensupportnya turut hancur.

Efek menggemeretakkan gigi bukan hanya dapat gigi copot saja. Kalau adat istiadat ini terus dilanjutkan, lama kelamaan rahang Anda akan menderita sindrom TMJ. Sindrom TMJ merupakan gangguan pada persendian temporomendibular di rahang yang menyebabkan rasa sakit luar umum, yang dapat menjalar sampai ke wajah dan alat pendengaran.

Stres juga menyebabkan gusi berdarah
Rokok kerap kali dibuat aktivitas pelampiasan untuk melupakan stres sebentar. Kecuali itu, stres berat seringnya membikin orang-orang lupa makan atau pun malas sebab tak nafsu makan. Rokok dan kekurangan zat nutrisi penting dari makanan merupakan dua unsur risiko yang dapat memicu gusi berdarah. Ditambah lagi, perubahan hormon dalam tubuh juga berperan serta untuk memicu situasi ini sebab produksi hormon stres kortisol yang berlebihan.

Tingginya kadar hormon stres kortisol dalam tubuh sudah lama dihubungkan dengan peningkatan risiko gusi berdarah dan penyakit gusi, semisal gingivitis. Penyakit gusi (periodontal) merupakan penyebab nomor satu di dunia untuk permasalahan gigi copot pada orang dewasa, dan sudah banyak penelitian yang menandakan bahwa penyakit gusi dapat dipicu oleh stres. Ini sebab stres dapat melemahkan cara imun, yang membikin tubuh lebih rentan kepada infeksi kuman penyebab penyakit gigi dan gusi.

Stres berat membikin seseorang mengacuhkan kebersihan pribadinya
Orang-orang yang sedang stres berat atau malahan depresi pada lazimnya tak mempunyai motivasi untuk berkegiatan, dan ini dapat berimbas pada kelalaian menjaga kebersihan diri — termasuk juga jarang sikat gigi. Anda juga mungkin merasa malas atau tidak mau pergi ke dokter untuk periksa kesehatan. Lama kelamaan, kuman penyebab penyakit dapat menumpuk dan menggerogoti gusi, menyebabkan peradangan gusi. Sebuah studi tahun 2009 menemukan bahwa orang yang mengacuhkan perawatan mulut mereka selama stres dan depresi cenderung mengalami gigi copot.

Melainkan hening, tidak segala orang yang stres giginya akan copot
Diberitakan dari Reader’s Digest, Janet Zaiff, DDS, seorang dokter gigi di New York, mengatakan bahwa saat Anda menggabungkan ketiga unsur di atas — menggemeretakkan gigi, penyakit gusi, dan kebersihan gigi yang buruk — bukannya mustahil stres berat benar-benar dapat menyebabkan gigi copot. Tetapi semacam itu, efek menakutkan dari stres ini termasuk langka, dan kalaupun benar terjadi, tak akan lantas terjadi tiba-tiba dalam semalam.

Hal ini ditegaskan oleh dr. Ronald Burakoff, kepala departemen Kesehatan Gigi di North Shore University Hospital, New York. Burakof berkata pada Live Science bahwa, benar bila seseorang menggemeratakkan giginya sebab stres, ditambah lagi juga punya penyakit periodontal yang mendasarinya, adat istiadat ini dapat memicu gigi copot. Melainkan, “Stres sendiri bukanlah penyebab lantas dari gigi copot. Anda wajib secara khusus dahulu punya penyakitnya atau ‘bakatnya’,” tutup Burakoff.